NELAYAN CILACAP, SEJAHTERA ?
Pesona dan potensi kekayan laut Indonesia yang kaya tidak dapat membuat nelayan tradisional Indonesia bisa menjadi makmur. Laut Indonesia termasuk yang paling luas di dunia. Dengan keluasan, yang termasuk wilayah Zona Ekonomi Eklusif (ZEE) dan kurang lebih 5,8 juta kilometer dengan panjang garis pantai seluruhnya 80,790 kilometer atau 14 % panjang garis pantai dunia. Namun keaadan ini sangat kontradiksi dengan keadan nelayan kita. Nelayan kita khususnya nelayan tradisional masih bisa dikatan tingkat kesejahteraannya masih kurang. Nelayan tradisional merupakan salah satu kaum yang dikatakan miskin bersama para petani dan buruh.. Mereka (nelayan –red) sebagai pewaris budaya bahari yang sehari-hari berkutat dengan angin laut dan ombak besar, sama sekali belum bisa menikmati hasil memuaskan dari lingkungan bahari yang notabene adalah tempat mereka mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.
Di kabupaten cilacap sendiri jumlah nelayan ada 33.975 orang yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Sekitar 90 % sendiri merupakan nelayan tradisional. Dikatakan nelayan tradisional itu sendiri diliat dari perahu dan alat tangkap ikan mereka pada saat menangkap ikan di laut. Rata-rata nelayan tradisional mengunakan perahu kecil seperti perahu jukung dan jaring penangkap ikan yang masih sangat sederhana. “saya memilih menjadi nelayan karena tidak ada lapangan pekerjaan lagi,” kata faizal (35) salah satu nelayan tradisional cilacap. Nelayan tradisional sendiri biasanya melaut sampai 1-2 mil dari pantai cilacap kadang mereka juga mencari laut sampai laut dekat pantai pengandaran , jogja bahkan sampai perairan jawa timur.
Kadang kala nelayan tak mendapatkan hasil apapun dari hasil melaut. Pada musim paceklik seperti ini dimana ombak laut sangat besar. Nelayan tak berani mencari ikan karena hasil sangat sedikit, mendapatkan ikan hanya sekitar 5-10 ekor atau sekitar 5 kilogram saja. “musim paceklik seperti ini susah mas, cari uang sepuluh ribu saja susah,” kata nelayan yang sedang membetulkan jaring ikan. Musim paceklik ini membuat para nelayan tidak berpenghasilan karena mereka tidak melaut sama sekali kegiatan mereka hanya membetulkan jaring yang rusak karena tersangkut oleh karang.
Profesi nelayan bagi masyarakat pesisir pantai cilacap sebenarnya bukan pekerjaan yang full time. Pada saat musim paceklik seperti ini mereka mempunyai pekerjaan sambilan seperti kuli bangunan, tukang becak, petani ladang, adapula yang menyebrangkan para wisatawan ke pulau nusakambangan. “lumayan mas tuk musim seperti ini mending menyebrangkan orang ke nusakambangan,” kata rohmat (40) nelayan cilacap yang sedang menawarkan kepada AGRICA tuk menyebrang. Besarnya tarif untuk menyebrang sekitar sepuluh ribu perorang itupun masih bisa ditawar. Kehidupan para nelayan tradisional pada saat tidak melaut seperti musim paceklik ikan biasanya mereka ditopang oleh anggota keluarga. Banyak para istri nelayan yang berdagang untuk membantu suaminya yang tidak melaut. Pendapatan nelayan meningkat biasanya pada musim panen ikan. Musim panen ikan biasanya terjadi pada bulan September sampai bulan juli.
Nelayan tradisonal cilacap sendiri masih sulit dengan permodalan untuk menangkap ikan di laut. Mereka masih bergantung pada juragan perahu. Mereka tak punya modal sehingga biasanya dimodali dahulu oleh pemilik kapal untuk melaut.. Modal untuk melaut meliputi perbekalan, bahan bakar dan biaya pengangkutan perahu. Kadang mereka menghutang kepada pedagang untuk modal melaut. Disini mereka merugi saat menghutang modal kepada pedagang karena hasil tangkapan mereka pasti akan diserahkan kepada pedagang untuk membayar modal yang telah dipinjam dari pedagang jadi mereka pulang kerumah hanya membawa uang yang sedikit.
Di daerah mereka sebenarnya ada Koperasi Unit Desa (KUD) yang telah menyediakan kredit permodalan bagi para nelayan. Namum mereka lebih mencari jalan pintas dan cepat mendapatkan uang ke pedagang atau rentenir. Banyak syarat yang diperlukan dan dibutuhkan anggunan untuk mendapatkan kredit permodalan usaha dari KUD sehingga mereka malas untuk mengurusnya. Sedangkan kepada rentenir hanya diperlukan modal kepercayaan saja sehingga nelayan mudah mendapatkan modal dari para rentenir namum meminjam dari mereka (rentenir dan pedagag – red) sangat merugikan karena bunga yang tinggi dan kadangkala hasil tangkapan ikan nelayan langsung diberikan kepada para rentenir untuk membayar hutang mereka.
Jalur pemasaran hasil tangkapan ikan dari nelayan pun langsung ke pedagang tidak melalui proses pelelangan di Tempat Pelelangan Ikan yang telah disediakan. Para nelayan lebih memilih menjual hasil tangkapannya ke pedagang karena harga yang ditawarkan lebih tinggi daripada harga hasil pelelangan di TPI. “ mending jual langsung kepada pedagang mas, karena harganya lebih mahal dan langsung dibayar,” terang faizal (35). Pedagang biasanya langsung membayar kepada nelayan beda dengan TPI karena TPI menunggu proses pelelangan selesai dan uangnya kadang dibayar tidak sepenuhnya. Harga ikan dipasaran tergantung dari hasil tangkapan ikan nelayan seluruhnya. Bila sedang musim panen justru ikan akan semakin murah karena stok berlebih. Namun pada saat musim paceklik seperti ini harga ikan mahal karena pasokan ikan dari nelayan berkurang.
Menurut Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap hasil tangkapan ikan dari nelayan dari tahun ke tahun cenderung menurun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu salah satunya adalah kebijakan pemerintah pada tahun yang sebelumnya yaitu tentang kenaikan harga solar dan harga BBM lainya. Rata-rata nelayan perahunya mengunakan bahan bakar solar sehingga sewaktu harga solar naik banyak nelayan yang tidak melaut dan mengirit bahan bakar. Karena mengirit bahan bakar inilah nelayan tidak berani melaut lebih lama sehingga hasil tangkapannya sedikit.
Faktor lain yang menyebabkan hasil tangkapan ikan berkurang adalah pencemaran limbah disekitar pantai cilacap. “pantai cilacap sekarang sudah tercemar oleh limbah tumpahan minyak dari kapal tanker,” terang bapak parjo selaku wakil ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Baru-baru ini ada kejadian kebocoran dikapal tanker yang menyebabkan minyak tumpah ruah ke laut. Tumpahan minyak yang menyebabkan tercemarnya air laut akan mengendap ke dasar perairan dan akan merusak biota laut. Tercemarnya air laut ini menyebabkan ikan tidak lagi mau mendekat ke pantai Karena sudah tercemar. “ butuh penelitian lebih lanjut tentang sejauh mana dampak pencemaran limbah pantai cilacap,” kata bapak riyanto salah staff dinas perikanan kabupaten cilacap. Banyaknya ikan tergantung dari kondisi fisik perairan tersebut. Bila perairan tersebut bersih dan tidak tercemar maka disitu akan banyak plankton yang merupakan makanan ikan.
Selain kedua faktor tersebut , faktor global juga mempengaruhi hasil penangkapan ikan. Cuaca yang tak menentu membuat musim angin dan ombak besar tak bisa diprediksi. “ Faktor global yang mempengaruhi cuaca juga mempengaruhi hasil tangkapan ikan dari nelayan,” jelas bapak riyanto. Ombak yang besar dan tinggi membuat nelayan untuk berpikir dua kali untuk melaut.
Pemerintah selama ini tidak lepas tangan dalam meningkatkan kesejahteraan para nelayan tradisional. Menurut Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap pemerintah sudah memberi perannya dalam dunia perikanan. Salah satunya dinas perikanan bekerjasama dengan Balai Penangkapan ikan yang ada di Tegal dan Semarang untuk memberi pelatihan kepada para nelayan. Selain itu juga member pelatihan tentang pengolahan ikan dan budidaya ikan. Pemerintah juga sebagai pemberi fasilitas dan prasarana kepada para nelayan. Ketika bencana tsunami lalu pemerintah member bantuan kepada nelayan berupa mesin kapal, jaring penangkapan ikan, perahu bagi nelayan.
Namun tidak demikian hal yang dialami oleh sebagian nelayan tradisional. “saya tak pernah mendengar kalau dinas melakukan pelatihan khusus bagi nelayan,” kata faizal nelayan tradisional. Hanya sebagian nelayan tradisional cilacap yang baru mendapatkan pelatihan-pelatihan khusus dari dinas kelautan dan perikanan kabupaten cilacap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar